2 Komentar

Mengusir tikus sawah dengan air

<!– @page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

11 Juni 2008

pukul 20:28 WIB

waktu masih kecil aku dan anak-anak desa yang lain di suatu pagi disuruh oleh orangtua-orangtua kami untuk pergi ke sawah. Di sana rupanya sudah penuh oleh orang kampung. Itulah awal pertama kalinya aku merasakan pengalaman berburu tikus sawah. Seperti itulah cara orang desa. Guyub, rukun, gotong-royong dalam menyelesaikan masalah. Masalah yang pada saat itu sedang muncul adalah serangan hama tikus yang menghabisi tanaman padi milik warga.

Tikus-tikus itu bersembunyi di lubang-lubang di dalam tanah. Satu-satunya cara mengetahui bahwa sebuah lubang berisi tikus adalah mengendus baunya. Dan tentu saja itu tidak dilakukan oleh kami. Beberapa warga membawa anjing peliharaannya kesana. Setelah terlihat anjing itu bergelagat tidak bisa diam, maka tahulah kami bahwa di lubang itu ada tikusnya. Langsunglah kami mencangkul lubang itu dan menghancurkannya. Dan benar, setelah tanahnya berhasil dibongkar, di dalamnya ada beberapa ekor tikus. Tikus-tikus itu kemudian dibunuh dulu, dikumpulkan lalu kemudian dibakar.

Tahun demi tahun berlalu. Nuansa gotong-royong memudar. Menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak dibayar, tidak mendatangkan uang dan tidak produktif itu akhirnya menjadi alasan para warga untuk tidak mau lagi berburu tikus. Mereka harus bekerja. Mencari nafkah. Membiayai keluarganya. Karena sebab inilah, cara berburu tikus pun mengalami perubahan. Kini tidak lagi bergotong-royong. Tapi sendiri-sendiri. Mereka memutar akal. Dan ditemukanlah sebuah ide: menggunakan racun yang dibeli di kota.

Tidak jelas dari mana sebagian besar warga desaku membeli racun itu, apotek-kah, toko obat-kah, atau toko pertanian? Tapi yang jelas, mereka pulang dari kota berhasil membawa sebotol racun.

Di suatu sore mereka pergi ke sawah. Padi-padinya mulai menguning. Tanda tidak lama lagi mereka bisa memanennya. Tapi ada yang aneh. Mereka justru pergi ke sawah membawa biji-biji jagung. Aku tahu, tikus pun juga suka jagung. Tapi apakah benar jagung itu untuk menjebak tikus sawah?

Jagung-jagung itu ada yang dimasukkan ke dalam ember. Diberi air. Lalu dicampur dengan racun yang dibawanya dari kota. Untuk sebagian warga ada yang menggunakan cara berbeda. Setelah jagung-jagung itu tercampur dengan racun, jagung-jagung itu di letakkan di pintu-pintu lubang tanah. Dan setelah itu warga pulang. Niatnya, esok pagi mereka akan datang lagi ke sawah dan akan menemukan tikus-tikus itu mati tergeletak di dekat lubang karena keracunan jagung.

Dan memang benar. Banyak tikus yang tergeletak mati di pagi harinya. Sebagian warga puas. Tapi tidak dengan Pak Lik-ku.

Rupanya sore kemarin Pak Lik-ku pergi terlalu siang ke sawah. Ia meletakkan jagung beracun itu sudah benar di pintu lubang tikus. Tapi karena terlalu siang itulah yang menjadi penyebabnya. Kenapa? Karena bila masih siang unggas-unggas warga masih berkeliaran mencari makan. Mereka belum pulang ke kandang. Begitu mereka melihat banyak jagung berceceran di sawah, mereka langsung menyantapnya! Mereka memang tidak tahu kalau jagung itu sudah dicampur racun. Alhasil, unggas-unggas itu pun keracunan. Dan timbullah masalah antara Pak Lik-ku dengan warga di sekitar sawahnya.

Pak Lik-ku telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Terlalu beresiko dengan cara seperti itu. Dan setelah bertahun-tahun kemudian, warga desaku menemukan cara mengusir tikus-tikus itu. Yaitu dengan air.

Bila musim panen hampir tiba dan sawah terindikasi diserang hama tikus dan waktu itu pengairan sedang melimpah, mereka buang dan keringkan petak sawah dari air yang ada. Sebetulnya sih kurang bagus buat tanah. Tapi mau bagaimana lagi.

Kenapa coba tikus yang menyerang tapi kok malah airnya dibuang?

Rupanya, bila tikus mengerati padi, ia juga sama kayak kita kalau makan. Semakin banyak padi yang dimakan, semakin ia seret. Ia butuh minum. Nah bila ia banyak makan padi sedangkan air sawahnya telah dibuang semua ke sungai, tikus-tikus itu pasti akan tobat. Nggak bakalan lagi-lagi melahapi padi. Seret. Tidak ada air. Kehausan. Dan boleh tidak percaya dengan fakta lucu ini, tapi telah terbukti cara ini lumayan ampuh untuk mengurangi serangan hama tikus di sawah. Teknologi yang sangat ramah lingkungan yang berasal dari kearifan lokal.

About these ads

2 comments on “Mengusir tikus sawah dengan air

  1. ya
    betul betul betul.
    praktek ah.! biar sawah ku bebas dari tikus tikus.!

  2. bnr..mang tu knytan’a kwan.ad lg alsnya knpa tkus ska d tmpat byk air,krena mreka trhdar dari kucing sawah(kucing elek),.cos kucing tkut air.klo trjd srngan tkus pasti yg bnyak air lbh parah dr pda tmpat yg sdkt air..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 378 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: